Ulasan Eksakta : Praktik Baik Pembelajaran SMK Episode 2

0
2474

Pusdatin, Kemendikbud (24/3) – Pada dialog Eksakta di episode hari Senin (22/3) menghadirkan  4 orang narasumber yang berbagi pengalaman tentang “Praktik Baik Pembelajaran SMK Episode 2” ke pendengar Radio Suara Edukasi. Eksakta merupakan sebuah program Radio Suara Edukasi  yang ditujukan untuk para pendidik dan tenaga kependidikan, membahas seputar pendidikan yang melibatkan guru, mulai dari praktik baik pembelajaran, ruang diskusi dan kebijakan terkait profesi kependidikan. 

Dipandu Mbak Wira dan diproduseri Mira Maulia, keempat narasumber berbagi dengan antusias dan semangat. Berikut kami sajikan ulasan Eksakta edisi Senin (22/3) dengan tema Praktik Baik Pembelajaran SMK Episode 2.

Tedi Hadiana , S.Si  Guru SMKN 1 Selat Nasik Kab. Belitung Provinsi Babel Waka Kurikulum dan Pengampu Mapel Kimia DRB Babel 2019                                       

Narasumber pertama berasal dari Negeri Laskar Pelangi,  Tedi Hadiana, S.Si, Waka Kurikulum  SMKN  1 Selat Nasik Kab. Belitung Provinsi  Bangka Belitung (Babel), sekaligus guru mapel  kimia yang mengajar menggunakan simulasi dan komunikasi digital. Ia juga tercatat sebagai seorang  DRB dari Provinsi Babel 2019. 

Tedi berbagi pengalaman ketika dirinya memperjuangkan warga di sekitar sekolahnya yang terletak di Pulau Mendanau sebuah pulau kecil di gugusan kepulauan Bangka Belitung sekitar 50 Km dari pulau induk Belitung untuk menyekolahkan anaknya ke SMK sebagai lanjutan jenjang pendidikannya. Pada tahun 2010, Tedi terkaget-kaget melihat kenyataan bahwa sekolah ini sepi murid. Padahal memiliki kelengkapan sarpras yang mumpuni seperti peralatan perikanan dan 20 unit perangkat komputer. Jaringan listrik hanya mengalir antara jam 4 sore sampai 6 pagi menjadi penyebabnya sehingga sebagian peralatan menjadi rusak tak terpakai. 

Usut punya usut, Tedi menemukan penyebabnya, asumsi negatif orang tua terhadap jurusan Agribisnis Perikanan Air Payau dan Laut yang menurut mereka tidak akan menjanjikan masa depan cerah dan hanya akan menjadi nelayan sama seperti mereka saat ini.

“Padahal sesungguhnya dari jurusan ini anak-anak bisa berkembang menjadi profesi apapun yang lebih menjanjikan jika mau belajar serius dan melanjutkan sampai ke perguruan tinggi,” ungkap Tedi.

 Inilah membuatnya melakukan terobosan dengan izin dari Kepala Sekolah bersama rekan guru CPNS ia mulai bergerilya memahamkan orang tua dari anak-anak di daerahnya untuk melanjutkan SMKN 1 Selat Nasik. Tak hanya itu, motivasi belajar yang belum tumbuh di siswanya menjadi tantangan lain bagi dirinya.

Tedi bersama seorang rekan sesama  CPNS pada waktu itu mulai mengatur strategi dan memberlakukan aturan reward and punishment kepada siswa. Tidak berhenti sampai disitu, Tedi mulai mengecek dan mendapati dari 20 perangkat komputer sekolah masih ada 10 unit yang bisa digunakan, selebihnya rusak. Kemudian ia  juga menyediakan waktu mengajar  tambahan bagi muridnya yang ingin  belajar komputer s/d Pk.21.00 malam saat listrik sekolah masih menyala.

Berangsur-angsur perjuangan Tedi mulai memberikan hasil apalagi di tahun 2013 listrik sudah menyala 24 jam di kawasan Selat Nasik  dan perlahan namun pasti para guru pun tergerak untuk memanfaatkan pembelajaran berbasis TIK. Lulusannya juga sudah mulai terbuka wawasannya untuk tidak takut merantau dan melanjutkan ke perguruan tinggi. Untuk itu pihak sekolah juga terus memotivasi dan menginisiasi pemberian beasiswa bagi  lulusan yang diterima di PTN melalui jalur undangan. 

Kini SMKN 1 Selat Nasik telah memiliki wajah baru, bertransformasi menjadi  sekolah yang cukup berdaya saing tidak kalah dengan sekolah di wilayah sekitar yang lebih maju seperti Tanjung Pandan. Dari sekolah pulau yang tidak dilirik menjelma menjadi sekolah unggulan kebanggaan warga. 

Elfison Dahsananranca Syawtupan, SE Guru Multimedia dan Produk Kreatif Kewirausahaan SMKN 4 Kepahiang Bengkulu  SRB 2020                                                                                                                               

Guru peranakan Sumbar ini sehari-hari menempuh jarak tak kurang dari 40 Km dari rumahnya di Kabupaten Rejang Lebong dengan berkendara motor roda dua untuk mengajar mapel Multimedia dan PKK (produk kreatif kewirausahaan) di SMKN 4 Kepahiang Provinsi Bengkulu sekolah terpencil di kaki perbukitan atau pegunungan. Itulah perjuangan dari Elfison Dahsananranca Syawtupan, SE yang juga tergabung dalam keluarga besar Sahabat Rumah Belajar (SRB) tahun 2020.

Meskipun sekolah terpencil reputasi SMKN 4 Kepahiang sudah cukup dikenal di wilayah kabupaten lain sebab prestasi yang ditoreh seperti juara robotik siswa tingkat nasional pada ajang KSI juga prestasi guru di bidang otomotif. Tak heran bila banyak siswa dari kabupaten lain berminat sekolah disini sekaligus mengingat daerah tersebut juga merupakan wilayah pemekaran. 

Bermula hanya memiliki dua jurusan yaitu Otomotif dan TKJ, belum tersedianya jaringan listrik membuat sekolah mengadakan fasilitas listrik dari genset serta ruang kelas yang tersedia hanya tiga kelas digunakan secara bergantian untuk kelas X-XII dalam 3 shift pagi-siang sore sekolah ini mulai beroperasi di tahun 2006-2007. 

Kondisi sekolah yang jauh dari keramaian dan berdekatan dengan hutan memungkinkan siswa akrab dengan alam dan hewan liar. Hal ini membuat Elison dan rekan guru berkreasi dengan sesekali mengajak siswanya untuk ke tengah kota. Disini mereka menyewa rumah toko (Ruko) untuk melakukan praktek TIK. 

Sejak  tahun 2010-2011 bangunan kelas baru dibuat, alat-alat produktif dilengkapi dan jurusan barupun dibuka seperti Tata Busana dan Teknik Sepeda Motor. Khusus untuk jurusan Tata Busana, sekolah menggandeng orang tua siswa yang memiliki mesin jahit untuk membantu tugas praktek siswa.  

Di masa pandemi COVID-19, persoalan pembelajaran jarak jauh (PJJ) rupanya menjadi isu penting di SMKN 4 Kepahiang. Sebab sebagian besar siswa yang berasal dari kabupaten begitu mereka kembali ke kampung pulang ke rumah, mereka mulai tidak fokus lagi untuk Belajar dari Rumah (BDR), sebab tuntutan  membantu orangtua bekerja di perkebunan. Ditambah lagi jaringan internet yang lemah membuat PJJ tidak bisa terlaksana dengan baik. 

Sebagai solusinya pihak sekolah menetapkan kebijakan pembelajaran blended learning dimana siswa bisa masuk sekolah tatap muka 2-3 hari setiap minggunya bergantian dengan temannya. Kebijakan tersebut diambil berlandaskan edaran Direktorat Vokasi mengenai praktek kerja produktif SMK yang menggunakan peralatan diizinkan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Kendala lain bagi siswa-siswi yang akan menjalankan Prakerin (Praktek Kerja Industri) sangat sulit mendapatkan tempat magang berhubung sedikitnya lokasi industri disana. 

“Beruntung pihak sekolah sigap merespon kondisi tersebut dan melakukan koordinasi dengan banyak pihak seperti industri otomotif, Kementerian PU, guna menyepakati MoU dengan lembaga lain dan melengkapi ketersediaan alat praktek produktif sehingga mampu mendongkrak rasa percaya diri siswa untuk bangkit berprestasi kembali, “ujar Elfi menutup cerita.

Dari total jumlah lulusan rata-rata yang berminat langsung kerja sekitar 40 %, melanjutkan studi ke perguruan tinggi 30 % dan wirausaha sekitar 30 %. Hal ini sesuai dengan motto yang mereka gaungkan yaitu lulusan SMK bukan hanya bisa langsung kerja, namun juga bisa melanjutkan kuliah atau membuka usaha. 

Mereka telah dipersiapkan untuk meniti karir sesuai ketiga jalur tersebut yang dikenal dengan istilah SMK BMW, lulusan SMK bisa Bekerja, Melanjutkan studi atau berWirausaha.  

Evin Andriani, S.Pd. Guru  Fisika, Matematika dan PPKN SMKN 8 Jember SRB 2020 Jatim                         

Evin bergabung menjadi staff pengajar di sekolah ini sejak tahun 2015. Sekolah ini berada di wilayah kabupaten dan sudah memiliki fasilitas bangunan permanen yang cukup lengkap dengan konsentrasi awal membuka Jurusan Agribisnis Pertanian. Persis yang dialami Tedi Hadiana, Ia pun mendapati pertanyaan yang sama dari orangtua yang seakan tidak rela anaknya menuntut ilmu di sekolah yang tidak akan merubah nasib mereka, yaitu hanya akan berakhir menjadi petani tradisional seperti orang tuanya. 

Dari dua kelas jurusan agribisnis pertanian lambat laun jumlah siswanya meningkat. Hal ini tak lepas dari usaha guru dan sekolah mencetak prestasi siswa di ajang lomba hingga mengupayakan daya serap siswa yang tinggi  dalam dunia industri. Tercatat banyak lulusan SMKN 8 Jember yang bekerja di perkebunan kelapa sawit Kalimantan.  Sekolah ini juga membuka jurusan Teknik Komputer, Teknik Otomotif, TKJ, RPL, dan Teknik Informasi. 

Kendala yang dialami selama BDR adalah minimnya presensi siswa yang belajar daring. Setelah ditelusuri penyebabnya ternyata adalah jadwal yang bentrok dengan kegiatan mapel produktif jurusan Agrobisnis Pertanian dimana siswa memiliki jadwal merawat tanaman setiap hari. 

Kegiatannya berupa menyiram, menyiangi dan merawat tanaman secara keseluruhan.  Selesai kegiatan lapangan yang biasanya berlangsung hingga siang hari,  siswa mengaku kelelahan sehingga tidak cukup stamina untuk mengikuti kegiatan daring. Di awal pandemi, jumlah siswa dari 2 kelas yang aktif mengikuti PJJ hanya 20 orang. 

Untuk menyiasati terpenuhinya mapel normatif adaptif, Evin berupaya menyusun metode pembelajaran berbagai bentuk menyesuaikan kebutuhan siswa. Misalnya untuk siswa yang suka membaca ia sediakan metode pembelajaran asynchronous dengan cara membuat blog yang disisipi video pembelajaran praktikum  fisika. Untuk siswa yang hobi menonton, diberikan link video pembelajaran dari portal Rumah Belajar. 

Sama seperti Tedi Hadiana, Evin juga mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan pelatihan Google Master Trainer setelah ia mengikuti kegiatan Pembatik level 4 tahun 2020 dan menjadi SRB perwakilan Provinsi Jawa Timur. Ia mengakui banyak manfaat yang didapatkan dari berbagai pelatihan TIK guru, contohnya kompetensi keahliannya menjadi bertambah, yang dulunya hanya bisa menggunakan google classroom kini bisa memanfaatkan google sheet, google slide, dst dan ini berdampak positif pada semangat belajar siswa, sebab kelihatannya siswa lebih mengapresiasi guru dengan kompetensi TIK yang mumpuni. 

Sri Tri Purwaningsih, M.Pd Guru Kimia dan PKK SMKN Penerbangan 6 Tangerang Provinsi Banten 

Ini adalah satu-satunya SMK Penerbangan di wilayah Provinsi Banten yang dibangun atas gagasan Walikota Tangerang pada waktu itu yang baru dilantik pada tahun 2008 dengan tujuan mengintegrasikan kepentingan industri penerbangan Bandara Soekarno Hatta yang berlokasi berdekatan dengan sekolah dengan dengan potensi SDM tenaga teknik penerbangan di wilayah tersebut. 

Sri Tri Purwaningsih membeberkan jika sejak awal dilibatkan dalam pilot project pembentukan Sekolah Penerbangan tersebut mengaku tidak memiliki sumber referensi yang jelas sebagai tempat bertanya. Amanah berat yang diembannya sebagai abdi negara (guru PNS pada waktu itu) membuatnya tak patah arang menjajaki berbagai kemungkinan. Ia lantas mengikuti studi banding dengan SMK Penerbangan 29 Blok M, melakukan penjajakan dan menganalisis sendiri kurikulum yang coba disusun. 

Tanpa ketersediaan alat, tanpa SDM guru, bahkan sekolahpun masih menumpang di SMP terdekat. Dengan segala keterbatasan yang ada ia menantang kabidnya untuk melanjutkan rencana awal tetap mendirikan SMK penerbangan atau mengubah menjadi jurusan lain saja? Mulai saat itu bersama tim Sri bertekad mewujudkan rencana awal meskipun dengan modal nekad menjajaki kerjasama langsung dengan industri penerbangan, membuka komunikasi dan berkonsultasi pada Forum Komunikasi Penerbangan Indonesia dengan kata kunci yang selalu dibawanya yaitu “Demi Anak Bangsa” yang ternyata mampu menyentuh rasa peduli para petinggi di industri penerbangan. Satu persatu dukungan berdatangan, contohnya dari managemen Batavia Air yang memberikan training kepada calon pengajar.

Berkat usahanya,  SDM guru di SMKN Penerbangan 6 Tangerang Banten didatangkan langsung dari para praktisi penerbangan. Dalam waktu 2 tahun perjuangan mendirikan SMKN Penerbangan 6 Tangerang Banten makin mapan. Mereka sudah bisa memiliki hanggar sendiri, memiliki bangunan sekolah sendiri dan lulusannya banyak yang diserap di industri penerbangan baik sebagai tenaga tekhnis, maupun pilot. Namun proses yang dibangun tidak semudah membalik telapak tangan. Dunia industri penerbangan tidak serta merta mudah menerima lulusan SMK, mereka membutuhkan tenaga teknis berlatar pendidikan D2-D3. Untuk itu ia menuntut lulusannya untuk melanjutka ke pendidikan yang lebih tinggi yang semakin menambah kualitas lulusan  SMKN Penerbangan 6 Tangerang Banten. 

Satu hal yang patut dicatat dari pengalaman Sri Tri Purwaningsih membidani berdirinya sekolah penerbangan tanpa latar belakang pendidikan yang sesuai ternyata mampu diatasi dengan pola kemitraan yang baik yang dibangun sejak awal dengan stakeholder terkait. Tantangan yang dihadapi khususnya dalam PJJ khusus untuk SMKN 6 Penerbangan Tangerang Banten adalah soal komitmen kedisiplinan.

Sebab pendidikan karakter adalah goals utama yang menjadi menu wajib di sekolah ini. Meskipun tidak berbasis sekolah berasrama, pada saat sebelum pandemi sekolah menerapkan kewajiban apel pagi mulai pukul 06.15 WIB, apel siang dan apel sore. Hal ini menjadi sulit dilakukan ketika harus melaksanakan pembelajaran daring. Karena itulah ia mengadopsi model pembelajaran blended learning, proses synchronous  maupun asynchronous memanfaatkan aplikasi yang marak digunakan saat ini. 

Meskipun di tengah Pandemi COVID-19, keempat narasumber sudah membuktikan jika kesulitan apapun dapat diatasi dalam memajukan pendidikan. Untuk itu, para narasumber memberikan pesan kepada seluruh ekosistem pendidikan baik guru, siswa orangtua maupun masyarakat yang bersama-sama menghadapi kondisi sulit di era pandemi untuk tetap bersangka baik dengan takdir yang sudah ditetapkan. 

Untiuk mendengarkan kembali pengalaman mereka, Sahabat Edukasi dapat kembali membuka Podcast Radio Suara Edukasi pada link http://ringkas.kemdikbud.go.id/podcastsuaraedukasi. Tetap saksikan Eksakta setiap hari Senin, Rabu dan Jum’at pukul 14.00-16.00 WIB di Radio Suara Edukasi, pada hari ini Rabu (24/3), Eksakta mengupas tema Perguruan Tinggi Memilih Mahasiswa melalui Jalur SNMPTN dipandu Mbak Wira dan diprodusei oleh Mbak Mira Maulia.

Radio Suara Edukasi,
streaming:
✅Http://suaraedukasi.kemdikbud.go.id
✅IG: @suara.edukasi
✅ Aplikasi di playstore/AppStore: TV Edukasi
✅ Aplikasi spotify: Suara Edukasi Podcast
https://s.id/suaraedukasipodcast

Bagi Sahabat Edukasi yang ingin bertanya atau memberi tanggapan, silakan melalui WhatsApp:
0811 913 1440
atau beri komentar di IG @suara.edukasi
Suara Edukasi
Akrab dan Mencerdaskan

Tim Artikel Pusdatin Kemendikbud : Mgs. Fisika Fikri, Maria Triyani, dan Renny Pebriyanti

Pewarta : Wira (Penyiar Program Eksakta)