Strategi Transformasi Pendidikan Digital di Provinsi Banten

0
4230

Jakarta, (23/9) – Provinsi Banten menjadi penyelenggara TIK Talks selanjutnya setelah Jawa Tengah. Kegiatan ini diikuti oleh hampir seribu peserta yang terdiri dari kalangan guru dan tenaga kependidikan di Banten dan juga di seluruh Indonesia, bahkan Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN).

KIHAJAR TIK Talks Banten merupakan satu bagian dari gelaran besar KiHajar 2021 berupa seminar daring (online) dengan menampilkan beberapa narasumber ahli dan praktisi IT untuk Pendidikan, yaitu Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Kepala UPTD TIKPK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Associate Professor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia sekaligus Penulis buku Digital Dilemma I dan II, serta Duta Rumah Belajar Provinsi Banten.

Dr. M. Hasan Chabibie, M.Si. selaku plt. Kepala Pusdatin Kemendikbudristek, membuka acara TIK Talks Banten ini dengan mengingatkan untuk tetap menjaga semangat belajar, baik dengan proses pembelajaran daring atau pun luring. Kemudian, Ia juga memaparkan Kebijakan TIK Nasional untuk Pendidikan. Salah satunya adalah program bantuan kuota untuk mendukung kebutuhan pembelajaran daring.

Provinsi Banten adalah salah satu provinsi dengan utilisasi atau tingkat pemanfaatan bantuan kuota belajar yang cukup tinggi. Hasan juga berharap transformasi digital dapat terjadi. Untuk mewujudkannya, terdapat 3 item yang dapat dilakukan, yaitu penguatan ekosistem digital literasi, data literasi, dan digital leadership.

Plt. Kapusdatin, Dr. M. Hasan Chabibie

Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Dr. H. Tabrani, M. Pd. mengenai “Strategi Pengembangan E–Government di Pemprov Banten”. Dalam sambutan dan arahannya disampaikan bahwa posisi kita saat ini hidup di era teknologi tinggi, tidak terkecuali pada institusi pendidikan. Maka dari itu, tenaga pendidik perlu lebih beradaptasi dengan alat-alat teknologi agar tidak tertinggal.

Disebutkan pula bahwa kondisi pandemi saat ini memberikan hikmah yaitu wadah pembelajaran daring semakin terbuka. Oleh karenanya, kegiatan ini diselenggarakan untuk memotivasi guru dan siswa agar lebih melek literasi digital khususnya dalam pembelajaran. Sebagai penutup paparannya, disampaikan pula ucapan terima kasih dan apresiasi kepada PUSDATIN Kemdikbudristek karena sudah memberi kesempatan pada Provinsi Banten untuk meningkatkan pengetahuan dari para narasumber yang diundang.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Dr. H. Tabrani, M. Pd.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala UPTD TIKPK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Tito Istianto, S. E., M. Si. menyampaikan materi terkait “Pemanfaatan TIK dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Provinsi Banten”. Melalui paparannya, Ia menjelaskan latar belakang yang mendasari gagasan yang telah dilakukan dalam upaya menanggapi kondisi pandemi saat ini. Dimana kondisi saat ini menjadikan teknologi sebagai sebuah kebutuhan dalam hal pengelolaan dan pengayaan sumber bahan ajar berbasis digital.

Pak Tito juga menyampaikan rencana kebijakan TIK untuk pendidikan di Provinsi Banten, diantaranya pembuatan website dinas pendidikan, pelatihan pemanfaatan TIK, penggunaan E-Raport, dan kebijakan lainnya. Hingga saat ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten telah melaksanakan beberapa rencananya, yaitu kerjasama dengan Kemdikbudristek (PUSDATIN), membuat aplikasi pembelajaran berbasis flash, membuat aplikasi berbasis website, serta meningkatkan infrastruktur dan jaringan untuk pendidikan.

Kepala UPTD TIKPK Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Banten, Tito Istianto, S. E., M. Si.

Kemudian acara dilanjutkan dengan pemaparan oleh Associate Professor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Dr. Gandung Ismanto, M.M. yaitu terkait “Aksesbilitas dan Mutu Pendidikan serta Tantangan Pembelajaran Abad 21”. Dalam pemaparannya, Ia menjelaskan bahwa tak mudah bagi Banten untuk mengejar ketertinggalan di berbagai sektor kehidupan, termasuk sektor pendidikan.

Associate Professor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Dr. Gandung Ismanto, M.M.

Gagapnya sektor pendidikan dalam pelaksanaan PJJ selama pandemi adalah salah satu masalah lambannya transformasi digital, yang lebih banyak terkendala oleh masalah infrastruktur, suprastruktur, dan daya beli masyarakat yang diperburuk dengan policy mismatch. Ia juga menambahkan beberapa tantangan sektor publik di masa depan yaitu optimalisasi teknologi informasi dan digitalisasi, tuntutan transparansi akuntabilitas publik, media sosial menjadi refleksi tuntutan publik terhadap pemerintah, serta pembauran budaya akibat globalisasi. Di akhir pemaparannya, pserta juga mendapatkan penjelasan terkait gambaran bagaimana kondisi SPBE, problem kelembagaan, problem kesejahteraan, problem kesenjangan, dan problem literasi di Provinsi Banten.

Selanjutnya, Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia yang juga Penulis buku Digital Dilemma I dan II, Dr. Ir. Firman Kurniawan S., M.Si. menyampaikan bahwa perkembangan teknologi komunikasi dan informasi menjadikan peradaban masyarakat baru yaitu network society. Dan transformasi digital ini merupakan suatu keniscayaan, perlu ada titik disrupsi untuk menyeimbangi antara perkembangan teknologi digital dengan kemampuan adaptasi manusia.

Pakar Komunikasi Digital Universitas Indonesia, Dr. Ir. Firman Kurniawan S., M.Si.

Ia juga memaparkan beberapa rumusan yang UNESCO berikan terkait dengan bagaimana manusia beradaptasi pada teknologi digital yaitu perlu memiliki kemampuan literasi, komunikasi dan kolaborasi, kreasi pembuatan konten digital, mampu berselancar di dunia digital dengan aman, dapat menggunakan perangkat digital untuk solusi serta mampu menggunakan dengan cakap pada area pekerjaannya. Dan yang dimaksud dengan transformasi itu adalah mengalihkan kehidupan real atau nyata ke kehidupan yang terdigitalisasi.

Di akhir pemaparannya, Pak Firman menambahkan bahwa sayangnya pada survei indeks kesopansantunan pengguna digital Indonesia ada di peringkat 29 dari 30an negara yang mengikuti survei. Selain itu juga KOMINFO menyampaikan hasil surveinya, bahwa indeks literasi digital masyarakat Indonesia adalah di nilai 3.47 dan ini masuk dalam kategori sedikit di atas sedang. Angka minimum terjadi pada kemampuan memahami konsekuensi etis dari sebuah konten, sehingga dari hal tersebut diketahui bahwa memang literasi dan kemampuan berdigital yang baik bagi masyarakat Indonesia masih sangat perlu dikembangkan. Dan problem pemanfaatannya baru sebatas memindahkan ruang. Jadi untuk men-transfer value nya masih sangat minim dan sayangnya keotentikan individu jadi tersamar.

Duta Rumah Belajar Provinsi Banten, Ai Wenny Purnama Putri, S.Pd. melanjutkan acara dengan memaparkan inovasi pembelajaran digital untuk mewujudkan merdeka belajar. Merdeka belajar yang dimaksud yaitu belajar yang melibatkan peserta didik, kemudian pendidik memberikan pillihan cara dan nantinya memberikan refleksi terhadap proses dan hasil.

Terdapat 3 hal yang harus dikemas dalam inovasi pembelajaran digital, yaitu Kemandirian, Kolaborasi dan Petualangan. Untuk mewujudkan kemandirian para tenaga pendidik dapat memberikan referensi media-media pembelajaran yang sudah tersedia, seperti Rumah Belajar, Televisi Edukasi dan Suara Edukasi.

Selanjutnya untuk mewujudkan kolaborasi, para guru dapat memanfaatkan aplikasi seperti Canva, Google Slide dan Google Docs agar dapat berkolaborasi bersama para siswanya. Dan terakhir untuk mewujudkan petualangan, dapat mengarahkan peserta didik untuk menggunakan aplikasi seperti Google Classroom, Quizizz, atau bisa juga dengan mengikuti program KIHAJAR STEM yang rutin diselenggarakan setiap tahunnya.

Di akhir pemaparannya, Ai menambahkan bahwa teknologi hanya alat, kita tidak bisa digantikan oleh teknologi. Tetapi kita bersama-sama berusaha meningkatkan diri untuk menggenggam teknologi, sehingga tenaga pendidik dapat memberikan pembelajaran yang luar biasa dan bermakna untuk peserta didik.

Acara KIHAJAR TIK TALKS Provinsi Banten dipandu oleh Fathanissa dan dimeriahkan oleh permainan daring yang dipandu oleh Karima Putri. Selanjutnya, seluruh peserta yang telah mendaftar pada aplikasi simpatik, dan hadir mengikuti jalannya seminar akan mendapatkan sertifikat digital yang dapat diunduh melalui akun simpatik masing-masing peserta melalui tautan:  https://simpatik.belajar.kemdikbud.go.id/.

Kihajar TIK Talks Banten disiarkan melalui:

YouTube Televisi Edukasi https://youtu.be/F1PSnqqhTQM

Radio Suara Edukasi http://suaraedukasi.kemdikbud.go.id/