Kembangkan Inovasi, Serentak Bergerak Wujudkan Merdeka Belajar bersama Televisi Edukasi

0
391

Oleh : Hairun Nissa dan Amar Nugraha

(PTP Ahli Muda Pusdatin Kemendikbudristek)

Televisi Edukasi sebagai salah satu televisi pendidikan di Indonesia telah memasuki usia yang cukup matang. Pada tanggal 12 Oktober 2021, TV Edukasi menginjak usia yang ke 17 tahun, TV Edukasi banyak memberikan warna bagi dunia pendidikan di Indonesia. Beragam karya terbaiknya telah mengudara sebagai bentuk kontribusi untuk kemajuan pendidikan di berbagai jenjang, mulai dari PAUD hingga Perguruan Tinggi. Di masa pandemi covid-19, TV Edukasi banyak memberikan kontribusi, diantaranya melalui program unggulannya Belajar Dari Rumah (BDR) yang mendapat instruksi langsung dari Mendikbudristek untuk dapat dipergunakan oleh guru dan siswa. Konten-konten pembelajaran yang dikembangkan oleh TV Edukasi hadir juga di kanal media sosial terbesar, yaitu Youtube dan diharapkan dapat menjadi tontonan yang mengedepankan tuntunan bagi pembelajaran di Indonesia. 

Sebuah pertanyaan menarik dan menggelitik disampaikan oleh salah seorang siswa bernama Adji Astin dari Sekolah Indonesia Luar Negeri Den Haag (SIDH) – Belanda kepada pimpinan Kemendikbudristek yang dalam hal ini diwakili oleh Ir. Suharti, MA, Ph.D, Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek dan Dr. Muhamad Hasan Chabibie, S.T., M.Si., Kepala Pusat Data dan Teknologi Informasi, pada acara Siniar TV Edukasi Ultah Ke-17 di tanggal 12 Oktober 2021. Berikut pertanyaaannya, Apabila situasi sudah normal, apakah sistem belajar akan kembali seperti sebelum pandemi, atau akan ada inovasi sistem pembelajaran baru di Indonesia?”

Seorang siswa bertanya kepada pimpinan Kemdikbudristek tentang inovasi sistem pembelajaran di era normal baru.

Menarik tentu untuk kita diskusikan dan kaji secara ilmiah. Pertama, setelah hampir satu tahun setengah pembelajaran daring dilakukan, dengan segala inovasi dan usaha serta  kerja keras dari berbagai pihak dan berbagai disiplin ilmu, akankah nilai-nilai plus dari pembelajaran daring ini kita tinggalkan begitu saja? Kedua, tubuh kita telah membiasakan diri dengan pola kehidupan daring ini, gaya hidup dan cara berpikir kita pun sudah banyak beradaptasi dengan digital life,  sehingga ketika suatu hari pandemi usai, kita harus memulai lagi beradaptasi dengan pola kehidupan yang lama, atau mungkin kehidupan kita tidak akan pernah benar-benar sama seperti masa sebelum pandemi ada. Ketiga, blessing in disguise (berkah terselubung) dari adanya pandemi ini adalah meningkat dengan tajamnya kemampuan guru dan siswa dalam memanfaatkan TIK untuk pembelajaran karena ‘paksaan‘ dari kondisi yang terjadi, tentu menjadi hal yang harus disyukuri dan terus kita tingkatkan.

Lalu bagaimana Sekretaris Jenderal menyikapi pertanyaan kritis ini? Menurut Ir. Suharti, MA, Ph.D, “Pembelajaran tatap muka maupun pembelajaran jarak jauh ada baiknya dan ada kelemahannya. Dan kita ingin memastikan siswa masih dapat belajar dengan baik, meskipun dilakukan dengan tatap muka terbatas atau dilakukan dengan (pembelajaran) jarak jauh atau dilakukan dengan campuran (blended learning). Lalu apakah kalau situasi sudah normal akan kembali seperti dulu? Rasanya sayang ya, apa yang sudah diperoleh siswa yang sudah biasa dengan pembelajaran jarak jauh kemudian tidak dipakai di masa normal. Nanti kita inginnya tetap ada (model pembelajaran jarak jauhnya). Jadi teknologi yang kita gunakan selama ini diharapkan masih tetap digunakan di masa new normal atau kenormalan baru,” ujarnya.

Sekretaris Jenderal Kemendikbudristek dalam acara Siniar TV Edukasi ke-17

Sementara itu Kepala Pusdatin Kemendikbudristek Dr. Muhamad Hasan Chabibie, S.T., M.Si. melengkapi pernyataan Setjen dan mengatakan “Yang kita lakukan selama satu setengah tahun (selama pandemi) memperkaya dari proses belajar tatap muka yang selama ini dijalani, meskipun masih banyak ketidaksempurnaan. Pemerintah (Pusdatin Kemendikbudristek) telah banyak sekali menghadirkan inovasi, contohnya bantuan kuota data internet untuk belajar. Sementara dari aplikasi ada beberapa yang sering digunakan misalnya rumah belajar, belajar.id dan televisi edukasi. Pusdatin akan memperkaya dengan konten pembelajaran yang mudah diakses untuk siswa dan guru. Jadi saat kembali ke sekolah tentu senang dengan kembali bertemu guru dan teman-teman dan juga senang dengan konten pembelajaran digital yang melimpah dan aplikasi-aplikasi yang bisa diakses dengan mudah untuk memperkaya proses belajar mengajar“jelas Hasan.

Kepala Pusat Data dan Informasi Kemendikbudristek dalam acara Siniar TV Edukasi ke-17

Sejalan dengan apa yang disampaikan oleh para pimpinan Kemendikbudristek, penulis bersama dengan tim Televisi Edukasi merancang beberapa model pembelajaran yang dapat diterapkan saat pembelajaran di era kenormalan baru dilakukan. Salah satunya adalah model pembelajaran berbasis masalah dengan memanfaatkan konten TV Edukasi. Model pembelajaran ini telah diujicobakan di SMP Islam Al Azhar Bekasi pada mata pelajaran Bahasa Inggris. 

MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DI ERA KENORMALAN BARU DENGAN MEMANFAATKAN KONTEN TELEVISI EDUKASI

Beragam model pembelajaran inovatif terjadi dan sudah dikembangkan pada era pandemi saat ini mendorong para desainer pembelajaran mengembangkan berbagai model  pembelajaran yang terintegrasi dengan TIK baik dengan memanfaatkan sumber-sumber  belajar berbasis TIK maupun sebagai sarana pendistribusian konten. Berdasarkan  Permendikbud Nomor 103 Tahun 2014 tentang Model Pembelajaran melalui pendekatan ilmiah terdapat tiga model pembelajaran yang disarankan yaitu Discovery Learning (Pembelajaran Berbasis Penemuan), Project Based Learning (Pembelajaran Berbasis Proyek) dan Problem Based Learning (Pembelajaran Berbasis Masalah). Model ini dirancang untuk  pembelajaran level mikro yaitu pembelajaran level kelas dengan guru dan peserta didik sebagai subjeknya.

Konsep Model Pembelajaran Problem Based Learning Memanfaatkan Konten Televisi Edukasi

Model pembelajaran Problem Based Learning adalah model  pembelajaran inovatif yang menerapkan berbagai strategi yang mengarah pada peningkatan  keterampilan abad 21 yaitu keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. Model ini menekankan pada belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan yang kompleks dalam bentuk proyek untuk memecahkan masalah dari hasil kolaborasi siswa dengan siswa maupun  siswa dengan guru. Model ini menstimulus siswa sebagai pengambil keputusan maupun pemecah masalah.

Model pembelajaran Problem Based Learning dengan memanfaatkan TV Edukasi kali ini dirancang untuk jenjang SMP, pada mata pelajaran Bahasa Inggris KD 3.12 dan 4.12.2 terkait teks khusus dalam bentuk pesan singkat dan pengumuman/pemberitahuan (notice). Jenjang, mata pelajaran dan kompetensi dasar ini hanyalah sebagai contoh. Guru dapat mengganti sesuai dengan kebutuhan dan ketersediaan konten di Televisi Edukasi. 

Berikut adalah sintaks model pembelajaran berbasis masalah dengan memanfaatkan konten Televisi Edukasi di era kenormalan baru:

  • Mengorientasikan Peserta Didik Terhadap Masalah

Tahapan ini dilakukan secara blended learning karena bersamaan dengan penerapan Pertemuan Tatap Muka Terbatas, sehingga terdapat siswa yang mengikuti langsung di kelas dan juga ada yang mengikuti melalui Zoom Meeting

Diawali kegiatan dengan melakukan apersepsi dan berdoa, dilanjutkan guru menjelaskan tujuan pembelajaran serta ayat Al Quran yang berhubungan dengan tema pembelajaran. 

Guru memotivasi peserta didik dalam aktivitas pemecahan masalah dalam dunia nyata, terkait bencana alam. Pelajaran mengambil KD 3.12 dan 4.12.2 yang berisi teks khusus dalam bentuk pesan singkat dan pengumuman/pemberitahuan (notice), sesuai dengan konteks penggunaannya.   

Trigger yang diberikan adalah dengan menonton Video Pembelajaran dari TV Edukasi terkait Bencana alam dan mitigasi bencana. Guru dapat mengunduh video pembelajaran pada kanal youtube Televisi Edukasi pada link https://www.youtube.com/watch?v=FZaJNAyXJs0 

Cuplikan gambar program Televisi Edukasi

  • Mengorganisasikan Peserta Didik untuk belajar

Guru memberikan pre-test kepada peserta didik untuk mengetahui pengetahuan awal yang dimiliki, dilanjutkan membantu peserta didik untuk mendefinisikan dan mengorganisasikan permasalahan dengan beberapa driving question, pertanyaan yang mengarahkan peserta didik pada  pengerjaan project pembelajaran dari masalah yang muncul (bencana alam). Contoh driving question (setelah menonton video pembelajaran berupa mitigasi bencana alam)

1.What kind of natural disaster happened in our country?

2. Why is it dangerous?

3. What can we do to minimize the effect on the community?

4. What can you create to remind people around the place of the disaster? 

5. What the easy steps to avoid the disaster happened?

6. If you are the head of the region (kepala daerah),  What will you do for the community to overcome the effect of the disaster?

 

Suasana kelas saat PTMT dengan menerapkan model pembelajaran PBL dengan memanfaatkan konten Televisi Edukasi
  • Membimbing Individu/ Kelompok

Guru mendorong peserta didik mengumpulkan informasi dengan mengundang narasumber melalui tampilan Zoom Meeting dari Penyelidik Bumi, Bidang Mitigasi Gerakan Tanah, Bapak Kibar M. Suryadana. Diakhiri tanya jawab secara langsung oleh peserta didik. Kegiatan ini dilakukan agar peserta didik mendapatkan authentic discussion sehingga proyek penyelesaian masalah di daerah bencana tepat sasaran. 

Setelah itu peserta didik dibagi menjadi 4 kelompok dan bermain peran (Role Play) tentang bencana yang dihadapi dan menemukan solusinya dengan job kelompok masing-masing. Kelompok bisa dibagi berdasarkan peran di masyarakat.

  1. Kelompok 1: Kelompok OSIS dari sekolah yang berdekatan dengan terjadinya bencana.
  2. Kelompok 2: Kelompok Pak RT dan staf.
  3. Kelompok 3: Kelompok Remaja Masjid wilayah tempat terjadi bencana
  4. Kelompok 4: Kelompok Pak Kades / Lurah beserta jajarannya.

Tugasnya: What can you do to minimize the effect of disaster on your environment and community? Hasil kerja kelompok pertama adalah sebuah presentasi dalam power point berupa 

  1. Informasi bencana apa yang terjadi?
  2. What are their roles?
  3. How does this disaster happen?
  4. What are the causes?
  5. How can you minimize the effect?
  6. What can you do to help the community?

Guru juga bisa mengarahkan peserta didik untuk membuat sebuah rencana perbaikan wilayah bencana dengan membuat sebuah peta untuk pemasangan SIGN NOTICES, CAUTION & WARNING. Tujuannya agar masyarakat berhati-hati di daerah bencana dan ikut berpartisipasi dalam menjaga lingkungan dari bencana yang lebih berbahaya.

Suasana pembelajaran saat pembelajaran daring dengan menerapkan model pembelajaran PBL dengan memanfaatkan konten Televisi Edukasi

PILIHAN daerah (jenis) bencana: (bisa diundi untuk masing-masing kelompok, atau dibiarkan mereka memilih.

  • Landslide (Tanah Longsor)
  • Volcano Eruption
  • Forest fire
  • Flood
  • Earthquake

 

  • Mengembangkan dan Menyajikan Hasil Karya

Setelah menampilkan presentasi power point dari permasalahan bencana alam masing-masing kelompok, peserta lain diberikan kesempatan untuk memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi permasalahan dan solusi lebih lanjut. Guru memfasilitasi dan mengarahkan peserta didik agar tidak keluar dari topik pembahasan.

  • Menganalisis dan Mengevaluasi Proses Pemecahan Masalah

Guru membantu peserta didikan untuk melakukan refleksi/evaluasi terhadap proses pemecahan masalah. Dengan memberikan pertanyaan Post Test kepada peserta didik. Serta memberikan rubrik self evaluation ataupun project evaluation untuk masing-masing proyek yang diselesaikan. Dengan diakhiri dengan diskusi tanya jawab kepada peserta didik perihal solusi dari permasalahan mengenai mitigasi bencana.

Demikianlah salah satu contoh model pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru-guru Indonesia di masa Pembelajaran Tatap Muka Terbatas. Mari tingkatkan pemanfaatan konten pembelajaran yang ada di Televisi Edukasi. Merdeka belajarnya, TV Edukasi medianya!

Penulis: Hairun Nissa dan Amar Nugraha– PTP Ahli Muda Substansi Pemanfaatan dan Evaluasi Teknologi Pembelajaran Pusdatin Kemendikbudristek

Editor/Desain : Fisika Fikri-Maria/Renny

Referensi :

Sudjana, N. Dan Rivai, A. 1997. Media Pengajaran. Bandung: CV. Sinar Baru Bandung

Arikunto, S. (2013). Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta. 

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan, FKIP, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Vol. 2, No. 1, 2019

Bell, Stephanie, (2010). Project Based Learning for the 21st Century: Skills for the Future. The  Clearing House, Taylor & Francis Group 

Hosnan. 2014. Pendekatan Saintifik dan Kontekstual dalam Pembelajaran Abad 21.  Yogyakarta: Ghalia Indonesia. 

Miarso, Yusufhadi.2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Jakarta: Kencana 

Seels, Barbara B. dan Rita C. Richey. 1994. Teknologi Pembelajaran: Definisi dan  Kawasannya. Washington, DC: AECT. 

Siahaan, Sudirman, dkk. 2006. Televisi Pendidikan di Era Global. Pustekkom Depdiknas.