ISODEL 2021 : Education Technology in the New Normal: Now and Beyond

0
251

Jakarta, (2/12) – Pusdatin Kemdikbudristek menyelenggarakan kembali International Open, Distance, And e-Learning Symposium, (ISODEL) tahun 2021 mulai 1- 3 Desember 2021. Mengusung tema Teknologi Pendidikan di Era kenormalan Baru Sekarang dan Akan Datang,

ISODEL diselenggarakan dalam bentuk virtual menghadirkan kolaborasi Pusdatin dengan berbagai pemangku kepentingan pendidikan, peneliti, pendidik, akademisi komunitas dan praktisi di Indonesia maupun seluruh dunia menanggapi dinamika dan tantangan yang ada dalam pemanfaatan teknologi untuk pendidikan. ISODEL kali ini dibuka secara virtual oleh Mendikbudristek, Nadiem Anwar Makarim.

“Kita sering mendengar istilah disrupsi teknologi, yaitu kondisi dimana sistem yang kita gunakan berubah dengan cepat karena teknologi. Dunia pendidikan memiliki dampaknya, sehingga tidak ada pilihan lain selain beradaptasi dan berinovasi menjadikan disrupsi sebagai solusi”, ujar Mendikbudristek Nadiem Anwar Makarim dalam sambutannya.

Ia menambahkan bahwa Kemendikbudristek berkomitmen dalam program digitalisasi sekolah, tidak hanya memperluas akses terhadap teknologi tetapi juga menjembatani ketimpangan pada pengetahuan dan penguasaan teknologi.

“Mewujudkan itu Kemendikbudristek mengembangkan platform pendidikan digital yang tujuan utamanya membantu guru dalam proses pembelajaran, karena untuk terus berinovasi kita membutuhkan generasi digital talent yang kreatif dan mau berkontribusi untuk negeri. Dengan digitalisasi sekolah dan program kampus merdeka, saya yakin sistem pendidikan Indonesia akan menjadi lebih relevan dan lebih adaptif dengan perubahan zaman. Gagasan yang lahir dari isodel 2021 akan menjadi masukan berharga bagi kami untuk melanjutkan gerakan merdeka belajar dan kampus merdeka”, ujar Nadiem.

Mendikbudristek, Nadiem Makarim

Sesjen Kemdikbudristek, Suharti menyampaikan terima kasih atas dukungan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang telah memberikan dukungan penuh sehingga dapat mengimplementasikan seluruh kebijakan serta program-program Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi selama ini. Ia juga menyampaikan bahwa melalui ISODEL ini akan mendengar dan memperhatikan segala inovasi yang dapat meningkatkan kemampuan dan kualitas pembelajaran.

Pembicara utama pertama Tantowi Yahya, Duta Besar Indonesia untuk negara Selandia Baru, menyampaikan bahwa sektor pendidikan di dunia dan Indonesia terkena dampak dari pandemik ini. Dalam pandangannya bahwa teknologi komunikasi dapat melestarikan kebudayan karena 3 alasan yaitu, memiliki metode berkelanjutan, penyimpanan yang besar dan memperluas eksposur. Sehingga generasi mendatang dapat menyaksikan, merasakan langsung kebudayaan saat ini. Kemendikbudristek diyakini sudah di jalur yang benar menuju itu.

Sementara pada sesi plenary 1 dengan topik pembahasan Industry 4.0: Big Data, Internet of Things (IoT), Artificial Intellegence (AI), Financial Technology (Fintech), Virtual and Augmented Reality (VR and AR), Games, Virtual Classroom and Campus, Statistic, Web binar, yang menghadirkan pembicara Dr.R. Alpha Amirrachman, Direktur SEAMEO SEAMOLEC, Indonesia, dan Ms. Atsuko Okuda – Director of ITU (Regional Office for Asia and Pasific) yang dimoderatori oleh Dr. Miko Harjanti.

SEAMOLEC telah mengembangkan berbagai pembelajaran berbasis Virtual Reality, Augmented reality hingga membuat program berupa SMILES (SEAMOLEC Mini lecture series), serta pentingya melindungi generasi muda dari bahaya negatif teknologi. Maka dari itu Indonesia membutuhkan Roadmap yang terdiri dari rekomendasi kajian ilmiah, regulasi hingga implementasi dalam pemanfaatan teknologi.

Pada sesi plenary lainnya dengan sub tema pembahasan yang sama dengan menghadirkan pembicara Massarow Syen, Director of Digital Education Institute –
Institute for Information Industry (III) Taiwan
, Prof Fransiskus Astha Ekadiyanto S.T., M.Sc. – Head of Center for Independent learning Universitas Indonesia, dan Dr. Abi Sujak, M.Sc. – Pusdatin Kemdikbudristek dimoderatori oleh Dayang Suriani. Di sesi ini para pembicara sepakat guru telah memiliki semua indikator dengan variasi frekuensi praktik. Mereka adalah guru yang baik.

Baik dalam “mengajar. tapi untuk menjadi PENDIDIK yang lebih baik beberapa kompetensi digital perlu ditingkatkan. Memfasilitasi kompetensi digital peserta didik sangat penting terutama dalam pembuatan konten dan penggunaan TIK yang bertanggung jawab, sehingga perlu dilakukan studi lebih lanjut dengan desain yang lebih kompleks.

Pada plenary ke 2 dengan tema pembahasan Digital Educational Transformation: Closing the digital gap, to Reach the Unreach, Remote Area, Open Access, Flexible Learning, Disability Access menghadirkan pembicara Menteri Keuangan. Sri Mulyani Indrawati, Prof. Zoraini Wati Abas – Dekan, School of Distance Education, Universiti Sains Malaysia, Olivia Basrin dari Google dan dimoderatori oleh Pratiwi Wini Artati.

Disrupsi teknologi dalam dunia pendidikan adalah sesuatu yang dapat kita anggap sebagai peluang berharga untuk menciptakan cara belajar baru dan mengeksplorasi perangkat teknologi yang akan bermanfaat untuk membantu mengatasi masalah dan tantangan pembelajaran. Hal ini terbukti di tengah Pandemi COVID-19, untuk itu teknologi pendidikan di era kenormalan baru perlu menjawab isu tentang kesenjangan digital, akses inklusi dan disabilitas, akses terbuka dan pembelajaran yang fleksibel, agar transformasi digital terjadi.

Ada faktor utama keberhasilan transformasi digital yaitu Openness, Mindset, Readiness, Adaptive (OMAR), yang perlu dipertimbangkan dalam mendesain ulang pembelajaran. Hal ini membutuhkan tindakan kolaboratif dan inovatif untuk membuka solusi dari setiap masalah dan tantangan pendidikan. Berbagai pendekatan terhadap alat, inisiatif, dan tindakan inovatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan teknologi dan untuk mendukung akses yang adil dan inklusivitas bagi pembelajaran digital. Pemerintah mendukung melalui anggaran yang dapat meningkatkan infrastruktur dan akses komunikasi kepada seluruh warga negara.

Pada sesi plenary lainnya dengan pembicara Prof. Marito Garcia – Virginia University (Darden school of Business), Prof. Dr. Paulina Pannen, M.Ls – ICE Director, serta Vincent Quah dari Microsoft yang dimoderatori Moch. Abduh, Ph.D. menghasilkan kesimpulan, bahwa dalam hal transformasi digital untuk sukses belajar dan transisi ke pekerjaan melewati empat tahapan yang harus diperhatikan.

Keempat  tahapan tersebut diantaranya, tahap penerimaan dan pendaftaran, tahap pengalaman sekolah siswa, tahap pengalaman belajar siswa, dan tahap transisi ke pekerjaan dan keterlibatan pemberi kerja.

Hal lain yang juga perlu diperhatikan  kapasitas dan kompetensi sebagian besar guru tidak cukup. Di awal pandemi COVID-19 memunculkan istilah “Mendadak Berani” yang memiliki arti bahwa sebagian besar proses belajar mengajar harus sinkron, online dan virtual. Hal ini menyebabkan  terjadinya Learning Loss yang dikhawatirkan akan berpengaruh pada terjaganya kualitas pendidikan.

Tak lupa para pembicara juga menyimpulkan di masa depan pendidikan harus terdiri dari pendidikan itu sendiri, wirausaha, dan lapangan kerja. Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia harus melakukan reskilling dan up skilling.

Kita semua adalah pelajar dan kita semua adalah pendidik, oleh karena itu, semua peserta didik harus memiliki lingkungan belajar yang inklusif yaitu dukungan membaca, menulis, matematika, berbicara & belajar.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan, bahwa lebih dari 100 Trilyun dianggarkan untuk dana pendidikan, riset dan kebudayaan, sehingga dapat meningkatkan kemampuan dari warga negara Indonesia. Untuk itu keluarga yang paling rentan perlu dibantu, selain itu pemerintah juga menyediakan beasiswa yang dapat dimanfaatkan seluruh warga Indonesia untuk mendapatkan pendidikan lanjutan dan lebih baik.

” Dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh di masa pandemi, anggaran tersebut juga digunakan untuk membangun infrastruktur jaringan komunikasi, karena terdapat lebih dari 20.000 keluarga yang tidak mendapatkan akses koneksi Internet di seluruh Indonesia. Pemerintah juga memberikan subsidi, yang salah satunya bantuan Kuota data internet yang dapat memberikan kemudahan akses internet kepada seluruh siswa, guru, mahasiswa dan dosen untuk proses pembelajaran di masa pandemi”, tegas Sri.

Pelaksanaan ISODEL di hari kedua pada Kamis, 2 Desember 2021 menghadirkan tema Character Building: digital literacy, 21st century skills (critical thinking and problem solving, collaboration, communication, creativity and innovation), life skills learning to be, learning to do, learning to learn, learning to live together) dan menghadirkan penyajian dari para peneliti yang telah memberikan hasil penelitianya di pelaksanaan ISODEL 2021 di kelas pararel dengan bergabung pada link https://isodelexpo.kemdikbud.go.id/expo.

Kegiatan Pembukaan Road to ISODEL 2021 dapat disaksikan melalui:

 

YouTube Kemendikbud RI

https://www.youtube.com/watch?v=Y8TnoLQzR7I&t=461s