Bagaimana Pendidikan dan Teknologi Menguatkan Ekosistem Start-up di Indonesia?

0
3596

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Ada hal yang menarik dalam perkembangan inovasi digital Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, yakni geliat anak-anak muda yang mengembangan startup. Mereka bergerak secara efektif, memaksimalkan potensi, merawat jejaring, menguatkan tim kecil, serta terus menghidupkan ide-ide untuk dieksekusi menjadi peluang dan profit. Meski sedang pandemi, ide-ide inovasi digital terus tumbuh untuk menciptakan harapan.

Apakah ada hal lain yang lebih asyik selain terus belajar dan menembus peluang? Inilah yang saya rasakan bercengkerama, berdialog dan menganalisa tumbuhnya generasi optimis Indonesia, yang bergerak di bidang inovasi teknologi. Pandemi tidak menghalangi semangat mereka untuk terus berkarya. Memang, di beberapa sektor, pandemi memukul secara menyakitkan. Tapi, bagi anak-anak muda petarung dan pembelajar, pandemi dan krisis merupakan jalan membentang untuk uji nyali: meningkatkan kapasitas diri dan membalik resiko menjadi peluang.

Dalam beberapa tahun terakhir, saya berkeliling Indonesia dalam tugas sebagai praktisi pendidikan. Mengunjungi sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan dari Sabang hinga Merauke, bertemu dengan pendidik dan siswa, juga menikmati waktu-waktu sunyi di kawasan perbatasan. Beberapa kali—sebelum pandemi tentunya—saya menyisir kawasan-kawasan terjauh Indonesia untuk melihat bagaimana pendidikan dan inovasi teknologi saling menguatkan.

Pemerintah Indonesia telah menyelenggarakan program penguatan teknologi internet dengan proyek Palapa Ring, yang sukses sebagai infastruktur digital Indonesia. Dari infrastruktur ini, memungkinkan layanan internet yang cepat dan efisien untuk mendidik siswa-siswi di berbagai pelosok Indonesia. Para guru juga merasa senang mendapatkan akses belajar yang menguatkan metode pembelajaran mereka, hingga menginspirasi pendidikan yang lebih mencerahkan.

Ini semua memang keping-keping cerita yang bisa kita gali bersama-sama untuk merawat Indonesia. Teman-teman bisa berkunjung ke sekolah-sekolah di berbagai kawasan Indonesia, untuk melihat langsung geliat dan semangat para guru dan murid untuk memanfaatkan akses teknologi. Memang, masih banyak kekurangan dan ketertinggalan yang harus dikejar bersama, tapi jika kita lihat titik cerahnya, ada lompatan penting dalam persebaran akses teknologi internet dan inovasi digital.

Melihat Indonesia dari startup

Selain mengunjungi sekolah-sekolah, saya juga meluangkan waktu untuk bertemu dengan anak-anak muda yang semangat menggerakkan perubahan. Mereka aktif sebagai penggerak di bidang bisnis, pendidikan, kesehatan, teknologi dan banyak bidang lain. Juga, teman-teman santri yang mengabdikan diri untuk terus belajar inovasi teknologi. Konsep socio-preneurship memang telah sebenarnya telah melekat dalam tradisi warga Indonesia.

Sikap gotong royong, saling bantu, sekaligus mencipta solusi sebenarnya merupakan karakter kita, bukan? Inilah nilai-nilai dasar socio-preneurship yang bisa dikembangkan sebagai keunggulan bangsa Indonesia.

Dari sekian percakapan dengan teman-teman muda, saya menangkap kesan betapa menyandingkan percepatan pendidikan dengan inovasi teknologi sangat penting. Pendidikan yang berkualitas akan menghasilkan manusia yang kreatif, inovatif sekaligus selalu siap menghadirkan solusi. Aspek inovasi teknologi akan mempercepat langkah generasi muda Indonesia itu untuk meraih mimpinya di masing-masing bidang.

Kita bisa melihat, bagaimana tren meningkatnya brand-brand lokal yang diinisiasi sekelompok anak muda, juga startup yang menggeliat. Pada konteks ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi pemain penting dalam inovasi teknologi dan ekonomi digital. Maka, pendidikan yang berkualitas dengan dukungan teknologi menjadi sangat penting.

Digital perspektif merupakan sebuah kebutuhan, bukan lagi sebagai akibat. Apa maksudnya? Bahwa, harus ada upaya lintas pihak untuk melihat digital sebagai peluang, bukan ancaman. Dari perspektif ini, maka akan terbentuk jejaring kekuatan dan energi positif, untuk bersama-sama membangun ekosistem yang sehat dan berkelanjutan di bidang inovasi digital.

Beberapa waktu lalu, Presiden Joko Widodo menyampaikan betapa perkembangan ekonomi digital di Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Tenggara. Saat ini, ungkap Presiden Jokowi, Indonesia telah memiliki sekitar 2.193 perusahaan rintisan atau startup. Dari data ini, terdapat lima startup Indonesia yang telah menjadi unicorn, yang memiliki valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS. Selain itu, ada satu startup yang berpredikat decacorn, dengan valuasi mencapai 10 miliar dollar AS.

Dalam sambutannya di pembukaan pameran dagang Hannover Messe 2021, Presiden Jokowi menyampaikan dukungannya untuk penguatan startup. “Perkembangan ekonomi digital dan industry 4.0 Indonesia merupakan yang tercepat di Asia Tenggara dan akan menjadi kekuatan tersendiri bagi Indonesia untuk mewujudkan visinya”.

Pada kesempatan itu, Presiden Jokowi juga menyebut pentingnya penguatan sumber daya manusia, serta pentingnya memaksimalkan bonus demografi. Selain itu, investasi pada pembangunan hijau (green development) juga menjadi hal penting yang diprioritaskan.

Di sisi lain, terjadi tren peningkatan ekonomi digital di Indonesia yang didorong oleh aktifnya perkembangan pasar digital. Riset Indef pada 2018 lalu menunjukkan tren peningkatan ekonomi digital di Indonesia. Dari laporan riset itu, bahwa ekonomi digital telah memberikan kontribusi sebesar 5,5% atau 814 triliun rupiah untuk PDB Indonesia pada tahun 2018.

Selain itu, peningkatan ekonomi digital juga berdampak positif pada pembukaan lapangan kerja baru, dengan nilai sekitar 5,7 persen.

Sedangkan pada tahun 2019, berdasar riset e-Conomy SEA 2019, ekonomi digital di Indonesia valuasinya telah mencapai $40 miliar, serta diprediksi akan terus naik hingga $130 miliar pada tahun 2025 nanti. Pada tahun 2020 hingga awal 2021, meski di tengah pandemi, tren pasar digital justru meningkat dengan inovasi-inovasi yang mencengangkan.

Pada tahun 2021 ini, terjadi tren peningkatan pendaan kepada startup di beberapa bidang strategis, yakni bidang teknologi finansial (fintech), kesehatan (healthtech), pendidikan, logistik dan e-commerce. Berbagai investor kelas besar dari level internasional juga telah masuk ke Indonesia untuk mendukung perkembangan startup. Selain itu, yang lebih menarik, brand-brand lokal juga menggeliat dengan dukungan perkembangan teknologi sekaligus juga peluang besar dalam pasar digital.

Lalu, apa yang bisa kita maknai dari perkembangan massif ekonomi digital dan inovasi teknologi saat ini? Tentu, yang paling penting adalah terus mendukung penyelenggaraan pendidikan berkualitas. Pada titik ini, pendidikan harus terus menerus ditransformasikan untuk meningkatkan sumber daya manusia, menggerakkan inovasi, mendorong tumbuhnya kecakapan (hard skills dan soft skills) dan wawasan, sekaligus juga membentuk manusia yang mampu menghadirkan solusi.

Interkoneksi pendidikan berkualitas dan akses teknologi akan menjadi pilar mendukung ekosistem yang stabil untuk riset dan inovasi, yang pada akhirnya akan mendukung perkembangan startup serta ekonomi nasional.

Program Merdeka Belajar yang diinisiasi Mendikbudristek Nadiem Makarim bisa menjadi terobosan penting untuk sinergi lintas lini dan daya ungkit kemajuan bangsa. Program-program merdeka belajar menjadi lompatan untuk mengasah skill akan pengetahuan baru dan keahlian yang dibutuhkan untuk masa kini dan mendatang.

Selain itu, merdeka belajar–dan juga pendidikan vokasi–  juga perlu didorong untuk membentuk sumber daya yang mampu menganalisa masalah, mencipta inovasi, sekaligus menghadirkan manusia-manusia yang menghadirkan solusi, bukan hanya menghabiskan energi untuk mencari kesalahan, tapi juga berkempetisi untuk menyalakan api solusi, menggerakkan energi untuk kebaikan.

*) Dr. M. Hasan Chabibie, praktisi pendidikan, menyelesaikan studi doktoral di Universitas Negeri Jakarta, pengasuh Pesantren Baitul Hikmah, Depok Jawa Barat dan menjabat sebagai Plt. Kapusdatin Kemendikbud

Sumber : https://www.timesindonesia.co.id/read/news/353847/bagaimana-pendidikan-dan-teknologi-menguatkan-ekosistem-startup-di-indonesia